Pramuka Telkom

Pramuka Telkom
Tampilkan postingan dengan label Catatan Anggota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Anggota. Tampilkan semua postingan

Keheranan Pada Surat Baden Powell Berjudul “Apa yang Harus Kukerjakan Nanti”

0 komentar




Saya baca sebuah buku yang judulnya, “Boyman”. Dalam buku itu tertulis bahwa Baden Powell adalah seseorang yang bertipe pekerja keras, dan beliau tidak mudah putus asa serta penolong. Sampai kalimat itu, tidak ada masalah, dan saya tetap asik  membacanya. Tetapi kemudian buku itu menyebutkan, sifat tersebut terlihat dari sebuah surat yang ditulis Baden Powell pada tanggal 26 Februari 1865 kepada ibunya.

Begini isi suratnya, yang ditulis pada buku Boyman :

Aku ingin sekali membuat orang yang miskin menjadi kaya seperti kita, dan mereka secara hukum berhak untuk bisa bergembira seperti kita, dan siapapun orang berada dan berkecukupan, wajib memberi orang yang tidak punya.
Dan kita harus bersyukur kepada Tuhan yang telah menganugerahi kita. Dia telah membuat orang miskin dan orang kaya. Dan aku akan memberitahumu bagaimana untuk menjadi baik.
Sekarang akan kuberitahu..
Kau harus selalu berdo’a kepada Tuhan, tetapi kau tidak bisa menjadi orang baik hanya dengan berdo’a saja, tetapi kau harus berusaha keras untuk menjadi orang baik.

Sampai disitu, setelah membaca surat Baden Powell untuk ibunya, pikiran saya terasa dilukai. Sebagai pembaca, saya merasa begitu. Bagian yang membuat saya terheran-heran ketika membaca surat tersebut ada pada kalimat Baden Powell kepada ibunya yang begini, “Dan aku akan memberitahumu bagaimana untuk menjadi baik.” Sampai disini saya merasa tercengang dan begitu juga dengan kalimat selanjutnya. Baden Powell, berkata demikian pada ibundanya...?

Saya tidak keheranan tentang salah satu sifat Baden Powell yang penolong dan peduli pada orang lain, dan begitu pula menurut buku tersebut, yang terlihat dari surat Baden Powell yang ditujukan kepada ibunya. Bukan tentang hal itu. Saya juga membenarkan hal tersebut—sifat pedulinya Baden Powell pada sesama. Hanya saja, kalimat-kalimat yang ditulis Baden Powell kepada ibunya itulah yang saya tidak pahami.

Jika memang surat tersebut ditulis Baden Powell dan ditujukan kepada ibunya, yang saya pertanyakan, apa tujuan atau awal mula Baden Powel menulis surat itu kepada ibunya? Karena isinya begitu.

Seperti— orang tua saya menulis surat untuk wali kelas saya dengan tujuan  untuk memberitahukan pada beliau kalau saya sedang sakit dan tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah. Tentu isinya pemberitahuan. Pertanyaanya seperti itu, maksud saya, isinya.. kenapa begitu? Tentang isi surat tersebut. Isinya.

Tentu seorang ibu, dalam hal ini ibunya Baden Powell, putri seorang Admiral Kerajaan Inggris, tentu tahu sekali akan hal itu. Tentang kita tidak bisa mejadi orang baik hanya dengan berdoa. Dan kalimat-kalimat itu terasa kurang pas untuk ditujukan kepada seorang ibu dengan bahasa yang demikian :

“Sekarang akan kuberitahu..

Kau harus selalu berdo’a kepada Tuhan, tetapi kau tidak bisa menjadi orang baik hanya dengan berdo’a saja, tetapi kau harus berusaha keras untuk menjadi orang baik.”

Berulang kali saya menduga-duga…

Yang pertama, mungkin ada yang salah dengan penerjemahan surat Baden Powell untuk ibunya tersebut. Kesalahannya mungkin terletak pada kata ‘Kau’ yang seharusnya diterjemahkan ‘Kita’. Untuk membenarkannya saya sendiri sudah mencari surat asli yang masih berbahasa inggris di Internet dengan bantuan mesin pencari google, dengan berbagai keyword pula, tetapi tidak menemukan surat asli yang ditulis Baden Powell untuk ibunya, baik dengan bahasa Inggris ataupun Indonesia.

Akhirnya saya pasrah dengan dugaan ini. Tapi masa iya? ‘You’ dan ‘We’ itu kan bedanya cukup jauh.

Dugaan yang kedua, sebetulnya surat tersebut isinya bukan hanya kalimat-kalimat itu, tetapi ada kalimat lain yang tertulis diatas atau dibawahnya—isi surat yang saya kutip diatas.

Jadi mungkin Baden Powel bercerita pada ibunya dalam surat tersebut, curhat pada ibunya, dia menceritakan semua hal yang ingin ia kerjakan untuk orang lain, sesuai dengan judul surat "Apa yang Harus Kukerjakan Nanti".

Dan ia juga mengungkapkan, tentang pandangannya terhadap orang miskin dan harus membantu mereka. Hingga akhirnya, Baden Powell juga mengungkapkan pendapatnya, tentang bagaimana caranya menjadi orang baik. Ya, mengungkapkan pendapatnya kepada ibunya, dengan bahasanya sendiri—yang kebetulan seperti itu.

Tapi, saya menyadari kalau logika saya tetap tidak bisa menerima dugaan saya sendiri yang seperti ini.

Jika bukan karena adanya pemotongan/peringkasan isi surat, salah penerjemahan, bukan juga karena dugaan-dugaan saya seperti diatas. Lalu bagaimana? Saya tahu saya tidak akan menemukan penanggungjawab akan terlukanya logika saya, kecuali saya mencari sendiri jawaban atas dugaan saya itu.

Dan saya sudah mencobanya, mencari sejarah Baden Powell dari berbagai sumber yang saya harap ada blog yang menceritakan awal mula Baden Powell menuliskan surat itu untuk ibunya. Tapi hampir blog yang saya temui wacananya sama. Juga di Wikipedia tidak saya temukan. Juga di Pinetreeweb yang disarankan teman.

Oh ayolah! Kenapa baden Powel menulis surat itu untuk ibunya? Kenapa isinya begitu…? Kalau surat dengan isi dan bahasa yang begitu ditujukan untuk teman atau peserta didik Baden Powell, tentu saya tidak akan menulis ini dengan panjang lebar seperti sekarang. Logika saya tidak akan terlukai dengan pertanyaan saya sendiri.

Well...

Saya mulai pasrah, melepaskan ketidakmengertian dan rasa penasaran saya akan hal ini. Tentang isi surat Baden Powel yang dituliskannya kepada Ibundanya.

Mungkin jika seperti itu, yang perlu saya cari adalah tentang sejarah Baden Powel bagian tahun 1865. Tapi jujur, sejujur-jujurnya, saya sedang terkena virus lelah mencari tahu sejarahnya atau referensi yang lain lagi—yang sudah pasti panjang.

Dan kalaupun ada blog lain yang menuliskan tentang sejarah BP, belum tentu sejarah yang ditulis dan diposting di blog tersebut ada kisah tentang surat ini. Well, saya bisa menyimpulkan begitu, karena saya sudah melakukannya, mencari, dan membaca. Kebanyakan wacana yang ada hampir sama.

Permohonan saya, bagi pembaca yang memahami jawaban atas ketidakmengertian saya akan hal ini, tolong beritahu saya. Tolong jelaskan pada saya. Saya akan sangat meluangkan waktu untuk mendengarkan/membacanya.

Atau memberi referensi sejarah Baden Powell yang menurut Anda sudah pasti ada cerita tentang surat yang ditulis Baden Powell untuk ibunya juga tidak apa-apa. Memberi e-book yang sudah pasti ada cerita tentang surat itu juga tidak apa-apa. Baik e-book berbahasa Indonesia atau pun berbahasa Inggris, it’s okay.

Saya menunggu email kirimannya. Atau penjelasannya. Ini mungkin masalah sepele atau tidak penting, tapi saya akan sangat senang jika menerimanya, saya betul-betul penasaran. Well, penasaran.




- Adelia Wardani (07032)







Orientasi Kepramukaan Dan Mumetnya Pramuka Wajib

0 komentar



Masa orientasi sekolah sudah lewat lebih dari sebulan yang lalu, orientasi segala rupa kegiatan sekolah atau ekstrakurikuler yang ada pun sudah didemontrasikan dengan berbagai tingkah dan kreativitas anggota ekskul yang bersangkutan.

Nah, biasanya orientasi atau pengenalan lingkungan dan kegiatan sekolah diawal ajaran semacam ini menjadi ajang menguntungkan untuk mencari anggota si ekskul. Meskipun orientasi ekstrakulikuler bisa dilakukan tidak hanya pada Masa Orientasi Siswa baru di sekolah.

Well, tujuan orientasi? Sudah jelas, sebagai sarana mencari penerus kegiatan ekskul serta sebagai wadah untuk menampung siswa yang memiliki bakat juga adanya minat yang sama dalam bidang tersebut.

Hasil dari demonstrasi yang telah dipersiapkan oleh para anggotanya bisa jadi sukses besar hingga dapat menjaring siswa berbakat dan menuai minat kepada siswa baru. Namun tak jarang demonstrasi yang telah diluncurkan gagal total bernilai nol.

Demontrasi yang telah disuguhkan bak hiburan semata pengisi waktu. Kurang bisa menebar benih cinta, eh…. benih-benih minat mengikuti ekskul teresebut maksudnya. Alhasil tak ada regenerasi dan boleh jadi perkembangan prestasi ekskul terhambat.

Apa yang salah hingga hal semacam itu terjadi?

Well, tak bisa disimpulkan apa penyebab secara sahnya. Tapi boleh jadi, kondisi dan situasi peserta maupun anggota ekskulnya, keterbatasan waktu yang disediakan panitia, atau jumlah anggota dan anggaran yang dimiliki ekskul tidak mencukupi hingga kekreatifitasan yang ada tidak meghasilkan wujud nyata secara utuh atau dengan kata lain jadi ‘saaya-ayana’.

Dan juga mungkin berbagai hal akan berkontribusi mempengaruhi bagiamana cara berdemonstrasi yang berdampak pada hasilnya.

Jika seperti itu, orientasi perlu strategi-strategi yang cocok supaya siswa-siswi tertarik untuk bergabung. Artinya, bukan hanya dari cara berdemonstrasi si ekskul. Dari cara nge-MOSnya mungkin, atau aturan sekolah dan cara sekolah mendukung kegiatan ekskulnya perlu ditinjau.

Boleh jadi sekolah memperhitungkan nilai tambahan bagi yang aktif dalam ekskul, dari pihak sekolahnya wajib rajin mencari info perlombaan dan mengikutsertakan para angota ekskulnya pula, atau mungkin hingga memberi hari khusus untuk berkegiatan ekskul di sekolah.

Well, sekarang ini, khususnya orientasi Kepramukaan saat MOS di lingkungan sekolah, dirasa kurang mengena pada sasaran.

Pengenalan kepramukaan tidak bisa dilakukan hanya dengan sekejap mata atau dalam waktu yang tak lebih dari 10 menit. Ya masa weh atuh, dari sekian banyak bidang materi kepramukaan, dijelaskan hanya dengan ‘ngomong’? 10 menit pula. Ya nggak rame atuh. Hayo, bagian mana yang bisa dijelaskan dalam 10 menit dan langsung bisa menarik banyak anggota?

Tentu perlu visualisasi yang tepat dan praktek secara nyata, jadi bisa merasakan langsung, agar pengenalan berhasil mencapai tujuan dan mendapatkan gambaran atau pemahaman yang sesuai bagi siswa-siswai baru yang masih awan dengan Pramuka.

So, mengadakan perkemahan khusus untuk orientasi kepramukaan selama beberapa hari dengan konsep dan agenda yang cerdas dan menarik adalah salah satu caranya. Namun, untuk zaman sekarang, hal ini sangat jarang dilakukan atau bahkah disetujui oleh pihak sekolah.

Sekedar saran, bermain sandi dengan bendera semphore diiringi musik dan berjoged, mungkin? Ya… paling tidak membuat beberapa diantara mereka setidaknya bertanya, “Itu bendera maksudnya apaan? Kok geje banget pake bendera? Kekurangan alat mereun? Tuh… pipiriwitan gitu, ngagandengan, apa coba maksudnya, teu kreatif, mendingan juga rebana kita bisa berdendang.” Sodara-sodara, kebayang main morse pake rebana?

Atau mungkin dengan lawakan cerdas hingga membuat para peserta tertawa riang gembira dan berimbas pada bergabungnya mereka. Nah, setelah mereka bergabung, barulah diperkenalkan dengan kegiatan kepramukaan. Well, meskipun presentase bergabungnya kecil, paling tidak memberi kesan kalau anak Pramuka di sekolah itu teh humoris dan menyenangkan.

Sejujurnya, dalam benak saya masih bertanya-tanya, “Bagaimana cara efektif untuk memperkenalkan kepramukaan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya agar dapat menebar minat di hati para siswa baru?”

Apakah caranya dengan mewajibkan berpramuka pada kurikulum yang baru-baru ini diluncurkan kali, ya?

Sehingga, bisa menciduk banyak anggota, dan gudep-gudep pun kembali aktif tanpa adanya perkenalan dan tanpa perlu repot-repot menumbuhkan rasa cinta & nggak usah capek-capek memberi kesan awal terlebih dahulu tentang Pramuka di hati para anggotanya. Tapi semua itu akan hadir ketika sudah nyemplung mengemban ‘kewajiban’ berpramuka.

“Yang penting kalian semua wajib ikutaann…!!” sorak seseorang di sana (Siapa tah? :D)

Well, lalu bagaimana jika mereka menyadari bahwa menurut aturanya berpramuka itu tidak ada kata wajib?

Sebentar, apakah memang begitu, berpramuka tidak wajib?

Sudahkan pembaca ikut memeriksa dan terterakah itu pada suatu aturan tertulis? Iya?

Jika seandainya mereka tidak tertarik mengikuti kegiatan kepramukaan dan lebih memilih mengikuti hati nurani dengan keluar atas dasar hak asasi manusia, bagaimana?

Lantas bagaimana dengan aturan yang terlanjur mengikat mereka?

So, well, munculnya anggota baru itu mungkin salah satu yang diharapkan dari maksud orientasi beberapa paragraf diatas, tapi bagaimana dan seperti apa dampaknya jikalau terjadi ketidakefektifan dan ketidakterjangkauan pembinaan terhadap anggota karena anggota Pramuka tiba-tiba membludak di suatu gugus depan?

Bagaimana jika tujuan atau sasaran justru malah tidak tercapai? Sudahkah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari para tenaga pendidiknya?

Lalu, metode seperti apa yang akan digunakan untuk membina peserta didik, jika terjadi keterbatasan tenaga pendidik, dan perbandingannya terlampau jauh?

Well, yang saya tahu, ada Pangkalan yang menggunakan sistem pembagian kelompok saat berlatih. Menjadi 3 Kelompok.

Pelaksanaannya, kelompok dibagi berdasarkan mana yang minat sekali dengan Pramuka, mana yang sedang-sedang saja, dan mana yang sangat tidak suka.

Yang sangat tertarik, akan betul-betul diperkenalkan dengan Pramuka dengan segalam macam materi dan bidang didalamnya.

Yang tidak terlalu tertarik, unsur materi kepramukaannya tidak terlalu banyak dan ditambah dengan hal-hal yang disukai orang-orang dalam kelompok ini—meskipun tidak ada hubungannya dengan Pramuka.

Dan yang sangat terpaksa bin tidak tertarik sama sekali, materi yang diberikan diuatamakan kepada apa yang mereka minati saja, sekalipun tidak ada sangkut pautnya dengan Pramuka.

So, yang jadi pertanyaan, apa bedanya Pramuka diwajibkan dengan tidak?

‘Kan jadi timbul pertanyaan, “Nanaonan eta teh, euy?”

Well, selain itu, lalu bagaimana sistem penilaian di rapot pada ‘mata pelajaran’ Pramuka di sekolah?

Dinilai dengan angka, atau huruf? Lalu berdasarkan apa atau dilihat dari segi apa penilainnya? Cukup akurat dan terjamin, kah?

Sebetulnya apa toh tujuan pada kurikulum baru ini Pramuka diwajibkan di sekolah-sekolah?

Hmm well, jika melihat misi Kwarnas, atau ajakan Presiden RI dalam rangka revitalisasi Gerakan Pramuka serta ajakan Ketua Kwarnas dalam rangka meningkatkan peran Pramuka sebagai bagian sistem pendidikan nasional bagi kaum muda, yang tertera dalam kepanjangan PRAMUKA versi beliau-beliau. Oh well, mungkin beginilah cara perealisasianya.

Hmm atau tujuan lain, yaitu… membantu para anggota lama mencarikan anggota baru supaya tidak perlu capek-capek berdemonstrasi di sekolah? Jadi akan terus ada regenerasi, pun jadi tidak perlu repot berjoget dengan semaphore? Ahh.. that’s just a great ‘adieu’… baik hati pisan, ahahai. So, well, I hope someone can answer my questions distinctly. Curious…


Sekian, wassalam. J


- Adelia Wardani (07032)




NB : Topik ‘Orientasi Kepramukaan’ ini sebelumnya sudah pernah menjadi tema dalam Diskusi Penegak-Pandega yang pernah dilaksanakan oleh Gudep Pangkalan PT. Telkom di Jl. Anggrek 53A. So, there any some thoughts and conclusions of discussion.





Sedikit Kesimpulan Atas Pengalaman Lomba Pramuka

0 komentar




A little my conclusion. Mengingat-ingat dan memperhatikan beberapa peristiwa yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah penulis mengikuti berbagai perlombaan Pramuka, nih, sejak dua tahun yang lalu, terasa amat sangat memberi banyak pelajaran. So I want to share it with you, enjoy!

The first conclution, lomba dengan persiapan yang kurang matang plus masih rariweuh sibuk latihan di hari H kemungkinannya kecil untuk menjadi the winner. Apalagi kemampuan anggotanya masih minim akan materi yang dilombakan. Terlepas dari tujuan lomba itu sendiri sebagai tolak ukur kemampuan kita selama berlatih. Tapi, masa berani terjun dengan skill yang masih minim? Mau menyaingi mereka yang skill-nya sudah terasah? Banyak dampak yang akan ditimbulkan. Baik untuk internal maupun eksternal. You know ‘lah.. J

Well, bisa jadi karena persiapan yang kurang matang itu pula, alhasil mempengaruhi mood si peserta saat lomba berlangsung. Hasilnya pun? Ya sudah bisa disimpulkan dong… Masih berniat jadi the winner? Ya, gak ada salahnya optimistic! But don’t always be an optimist if never realize our skils.

Namun jika tujuan utamanya mencari pengalaman sebagai bekal untuk kelak jika sudah matang, ya sah-sah saja untuk dilakukan. Tak ada salahnya mencari tahu situsasi perlombaan itu seperti apa dan bagaimana konsep perlombaan yang sering dilakukan itu. Jadi tak hanya materi perlombaan yang dikuasi kelak, situasi dan kondisi yang sudah dipahami pun bisa menjadi bekal tambahan untuk makin pede.

Second, kekompakan dan toleransi menjadi kunci. Sungguh teramat penting. Hati yang serasi dan sesuai kondisi maupun tidak, jika kekompakan tetap terjalin, toleransi dapat diluncurkan, rasanya hembatan macam apapun terasa ringan saja. Lain halnya jika emosi amarah, kesal, ketidakpedulian, mimimnya toleransi, dan segala rupa sifat kekanak-kanakan tetap dipelihara. Sudah dapat dipastikan kekacauan menghinggapi regu atau sangga tersebut.

Last but not least,  kerjasama itu penting dan kebersamaan jadi puncak permulaan.

Kebersamaan. Mungkin tidak akan ada artinya sebuah bintang bersinar di langit—sendiri. Tapi lain halnya ketika para bintang berkumpul menjadi satu. Bekerjasama membentuk sebuah gugus bintang. Keberadaan mereka memberikan petunjuk bagi para pencari, dan pemandangan indah bagi para penikmat. Lalu kekompakan dan toleransi akan tumbuh diantara mereka seiring perjalanan waktu. Then they will be the great team!

Memang, banyak hal yang mungkin dapat menjadikan suatu regu atau sangga berhasil mencapai tujuannya. Namun dari semua faktor yang ada, kerjasama, toleransi dan persiapan yang matang termasuk bagian paling penting dalam komposisi keberhasilan mencapai tujuan.

Dia yang menyiapkan segala sesuatunya lebih matang sudah pasti layak jadi pemenang. Mengingat pepatah, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Don’t you ever forget, cooperative, tolerance, and be prepared if you want to be the winner! Yeah..!! J



- Adelia Wardani (07032)





Kesanku Dengan Pramuka

0 komentar




Ya, Pramuka! Berawal saat aku menjadi Siaga hingga kini aku menjadi Penggalang.

Pramuka. Suatu organisasi yang membuatku paham. Tentang arti kebersamaan, nilai dari sebuah perjuangan, ketulusan dari sebuah pengorbanan, makna dari sebuah pengabdian, tentang keberhasilan dari sebuah usaha, juga kegagalan dari sebuah pengalaman, dan hikmah dari setiap cobaan yang datang.

Padahal, awalnya kita tidak mengenal satu sama lain. Tapi seiring waktu bergulir, lambat laun akhirnya kita saling mengenal. Bercanda, bersedih, menyemangati, bercerita
bersama, tertawa bersama, dan dapat menyelesaikan semua masalah bersama.

Disini, kita tau apa arti dari sebuah keluarga. Dimana kita saling menyayangi, menghargai, mengasihi, namun tanpa melupakan kata saling menghormati dan tidak menghiraukan perbedaan yang ada.

Hari-hari yang kita jalani bersama seakan menjadi candu dalam hati. Peristiwa yang kita lalui, pengalaman yg kita dapat, kesuksesan yg kita raih, dan kegagalan yang menghiasi seakan bersarang dengan baik di ruang memori.

Dan cerita-cerita pengalaman yang kita dapat dari kakak-kakak kita, tersimpan dengan rapih dalam ingatan.

Disini kita adalah keluarga, tidak ada kata aku ataupun kamu  melainkan kita. Saling berbagi. Baik itu ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan kenangan. Pramuka mengalihkan duniaku menuju titik keberhasilan yang dilalui dengan perjuangan, pengorbanan dan doa.

Jika aku berharap, kelak suatu saat calon pemimpin dunia masa depan lahir dari gerakan pramuka, pasti dunia akan tersenyum melihat perubahan yang terjadi. Insya Allah.

Sekian, dan Salam Pramuka!


- Adelia Wardani | Penegak 07032


*) Ditulis pada akhir tahun 2011





Considering Baden Powell

0 komentar




February. Any special day in this month? Or special moment has been happening? I think everyone have different answer, right? For some people in this world, maybe they have celebrated valentine day. Ya, February 14. Do you get some chocolate from your friends? A flowers from your someone special, maybe? Doll, or others? :D

But this month very special is not only because valentine day, but also... hmm, some people may know that today is birthday of a man who is very influential for the development  of  youth education in the world.

A hero who was born in Paddington, London, 1857. He have a wife named Olave St. Clair Soames whom he had married on October 30, 1912. At that time, Olave was 23 years old and he is 55 years old. Interestingly, because of the marriage, each British Scouts give a contributed one of penny for bought a wedding gift. Then, they bought a wedding gift, that is a Rolls Royce.

Who is he…?

Yap! He is Robert Stephenson Smyth Baden Powell (Lord Robert Stephenson Smiyth Baden Powell of Gilwell). Over all merit and his dedication, in 1938 the Royal Academy of Sweden confers Baden Powell and all members of the Scout Movement the Nobel of Peace in 1939.

The Scout Movement celebrate February 22 as the day of BP, a date of birth between Olave and Baden Powell as Chief  Scout of the world.

Well, if he was still alive, maybe Baden Powell has 156 years old today. Although he was dead, but I think his name will never die and forgotten. So, happy birthday to you, Baden Powell.

There are some words which I like from Baden Powell. He said this at the opening in his book Scouting for Boys,

" A true Scout is looked up to by other boys and by grownups as a fellow who can be trusted, a fellow who will not fail to do his duty however risky and dangerous it may be, a fellow who is jolly and cheery no matter how great the difficulty before him." I will remember these words. A sentence full of advice and encouragement.

I would like to say happy birthday to you once again….


Baden Powell, Happy Birthdaaaayy…!! Love you, yeah! J





 
Copyright © Anggrek 53A Blogger Theme by BloggerThemes & newwpthemes Sponsored by Internet Entrepreneur